NASI dan DUPA
“mas jo, sri kangen” katanya dalam hati sri. Seorang ibu yang
memiliki satu anak perempuan. Setiap kali sang anak menanyakan bapaknya, sri
hanya menjawab “neng , mas bangun lebih cepat jadi sebelum eneng bangun bapakmu
sudah cepat pergi”. Jawaban sri juga tidak jauh berbeda ketika anaknya bertanya
mengapa jika malam tidak bertemu dengan bapak,”eneng, bapak datangnya malam
sekali saat eneng sudah tertidur pulas” jawab sri dengan sabar dan penuh
keyakinan.
“Mas jo, sri cuman bisa ngasih
makan pagi ini dengan nasi semangkuk yah!, lauknya diminta si eneng dia
kepingin katanya” kata sri kepada mas jo yang selalu menanti nasi hangat buatan
sri. “maaf yah mas jo, sri baru bisa memasak sekarang” penyesalan terlihat di
wajah sri. Sri seorang gadis berumur kurang dari 30tahun.
Wajah sri masih cantik, ia dari
keluarga kaya-raya namun keluarganya bangkrut karena usaha bapaknya ditutup.
Memang penguasa itu lebih kejam, tidak puas memakan harta rakyat yang
seharusnya dimanfaatkan dengan baik. Pengusaha yang mau lancar usahanyapun
disikat, jika tidak keluarga sri salah satu korbanya.
Sri selalu setia menemani suaminya
mas jo, tanganya yang mulus berubah menjadi kasar. “mas jo, aku sekarang bisa
mencuci. Lihat bertumpuk-tumpuk cucian tetanggakupun dengan senang hati aku
cuci, terkadang aku menawarkan untuk mencuci pakaian mereka” kata sri kepada
suaminya jo. Sri semakin rajin saja. ”Eneng dengan senang hati membantu sri,
menurut eneng mencuci baju itu seperti main air.” Lanjut cerita sri kepada jo.
“Hari ini hari minggu, kita ajak
jalan-jalan eneng mas jo” sambil menggendong eneng sri membawa eneng
mengelilingi pasar pagi. Sieneng membawa beberapa lembar daun pisang. Sri
menyerahkan daun pisang itu kepada pedagang dipasar. Eneng juga menyerahkan
daun pisang itu kepada pedagang. Tampak muka ceriah sepulang eneng diajak
jalan-jalan oleh sri.
“jo pisang yang kamu tanam di kebun
kita sekarang sudah besar, daunya sering sri petik mas jo agar terawat dan
rapih. Oh iya ketika pohon itu berbuah, aku juga sering memetiknya, terimakasih
yah mas jo” ucap sri ketika berada di kebun belakang rumahnya. Hoby mas jo ini
terbilang unik, ia menanam sayuran, buah-buahan, cabai, sampai rempah-rempah
seperti jahe, lengkuas, beraskencur, ada dihalaman belakang mereka.
“mas jo, sekarang sri bisa menyapu,
mengepel, bahkan sri sudah tidak alergi lagi sama debu. Bukan hanya rumah sri
yang dibersihkan. Tetangga juga ingin minta di bersihkan katanya sri telaten.
Bahkan si eneng ikut membantu” sri tersenyum sambil berbicara dengan mas jo. Tak
lupa dibersihkanya kaca yang berdebu dengan kain lap.
“mas jo, maaf yah sarapan hari ini
nasinya berwarna coklat. Mungkin karena sri lupa sedang asik menjahit pakaian
eneng yang sobek lihat saja lenganya sudah tidak muat, terlebih lagi tadinya
celana panjang sekarang jadi celana pendek jadinya sobek, apalagi si eneng
sudah bisa kesana kemari. Lain kali kalo celana mas jo robek sri jahit yah mas,
jangan di bawa ke tukang jahit mahal” sripun tertawa saat bercerita dengan mas
jo. Sri mengambil benang jahit dan mulai menjahit pakaian eneng yang robek.
“mas jo, eneng sudah naik kelas dua
SD. Eneng nanya kamu ada dimana? Kok tidak hadir” sri mengenggam telpon dan
mengirim sebuah pesan kepada mas jo yang di nama di handphon
sri suamiku. Sri resah menunggu balasan segera balasan dari masjo. Sri
hanya menghelakan nafasnya lebih panjang dari biasanya sambil mengendurkan
otot-otot tubuhnya. Eneng melihat teman-temannya yang ditemani oleh kedua
orangtuanyapun tersenyum dan berkata kepada ibunya “mama, bapak sibuk yah?
Pasti orang kaya” Tanya eneng kepada sri. Sri hanya tersenyum sambil mengelus
rambut anaknya. Tibalah giliran eneng yang dipanggil untuk menerima rapot.
Walikelas eneng berbicara kepada sri, eneng merupakan anak yang rajin dan
pintar katanya. Memang mas jo juga pintar mungkin keturunan kali bisik sri
dalam hati. Kata walikelas eneng besok di suruh hadir, untuk menerima beasiswa
karena termasuk murid yang berprestasi. Tak hanya di bidang akademin, dibidang
molahraga eneng juga pintar. Sri merasa lega seperti beban terangkat 1ton pada
pundaknya.
“jo malam ini kamu kemana? Tapi tak
apa aku sudah menyediakan nasi hangat dan daging untukmu. Jangan lupa dimakan,
ini perayaan anak kita karena ia tidak hanya rajin, ia juga pintar dan
berprestasi” ungkap sri merasa bersyukur hidupnya jauh lebih baik lagi. Ia
menaruh semangkuk nasi itu diatas meja seperti biasa setiap hari. Dipagi atau
malam hari, berharap mas jo memakan masakan yang disediakan oleh sri.
Sri terus bergelut dari satu bidang
ke bidang yang lain. Sri memang multi talenta dalam bidang-bidang tersebut.
Hanya belajar sedikit, sri bisa menguasai dengan baik. Entah sudah berapa lama
jo tidak pulang kerumah. Sri begitu rindu akan kehadiran jo, sosok yang menjaga
dan mendamaikan keluarga. Sri tetap bersemangat terus bertahan bersama eneng.
Setelah sekian lama sri akhirnya
mendapatkan pekerjaan yang bagus. Saudaranya membutuhkan akuntan gudang untuk
menghitung jumlah keluar masuk barang. Kehidupan sri sekarang sudah stabil. Bahkan
melebihi duit kiriman jo setiap bulanya. Jo memang begitu bisa mengambil
peluang dan mengerti segala resikonya. Tidak sia-sia kerja jo selama ini
terlebih lagi di dalam kehidupan sri. Segala sesuatu yang ia tinggalkan pasti
memiliki manfaat sekecil apapun.
Eneng sekarang sudah besar, ia
tumbuh cantik seperti ibunya. Banyak yang bilang eneng dan ibunya tidak jauh
berbeda, seperti kakak dan adik. Banyak lelaki yang tertarik terleih lagi jika
yang sudah berumur tidak segan-segan mengajak sri untuk makan malam. Suatu
ketika bawahannya sendiri pernah mengatakan cinta kepada sri. Sri tetap
berpegang teguh sama prinsipnya yang ia bangun oleh mas jo.
Sri wanita yang lurus tidak ada
celah menikung. Mungkin hal ini yang membuat jo sangat tertarik dengan sri dan
akhirnya menjatuhkan pilihan kepada sri untuk hidup bersama. Jo sangat tahu
kemampuan sri sampai dimana, untuk itu jo merasa aman jika ia harus
meninggalkan Indonesia untuk urusan bisnisnya.
Setiap hari eneng menanyakan
ayahnya. Sri selalu berkata bahwa jo super sibuk diluar sana. Eneng hanya
menurut saja perkataan sri. Sifat ini juga yang diturunkan sri kepada anaknya
eneng cantik jelita. Sri semakin mengerti tentang kehidupan ini. Ia tidak mau
menghianati cinta jo kepadanya, karena tidak mungkin setiap wantia bisa
mendapatkan pasangat seperti jo. Untuk itu sri tetapi mejaga cintanya dari godaan-godaan
dunia.
Sekarang sri bersyukur bisa
memberikan nasi hangat dan juga lauk kepada jo setiap pagi. Tidak seperti dulu,
mungkin hanya nasi saja atau air jika memang sri tidak lagi memegang uang. Kehidupan
sri sekarang jauh lebih mapan. Semakin ia mapan semakin banyak juga lelaki yang
mendekatinya, begitu pula dengan si eneng harus lebih berhati-hati kepada
lelaki dekat denganya. Sri dan eneng selalu berbicara tentang ayahnya, dari
masa pacaran hingga menikah. Eneng
sendiri kagum dan bangga dengan sosok ayahnya. Mungkin ia akan mencari sosok
suami nanti seperti ayahnya kelak, tapi sampai sekarang eneng belum sempat
mencari pasangan. Katanya biarkan saja pasti nanti juga banyak lelaki tertarik
dengan eneng. Eneng sangat lebih focus dengan pendidikan yang ia geluti.
Menurutnya sangat sayang waktu digunakan untuk tidak belajar, begitupula dengan
sri.
10tahun lamanya. Sebuah surat
datang disebuah pekarangan rumah. Dengan warna merah cerah jika kita melihatnya
menimbulkan semangat menggelora. Sebuah taman kecil dan dibelakang masih
tertata rapih kebun milik suaminya. Sri masih rajin membuat masakan untuk
suaminya. Sebelum ia berangkat berkerja tak lupa memasukkan bekal makanan ketas
untuk anakanya eneng dan menghidangkan nasi hangat berserta lauk kepada jo.
Eneng sudah beranjak dewasa. Ia semakin cantik menandingi kecantikan sri. Pagi
itu sri membuka sebuah lembaran.
Sebuah cap dari perusahaan, rupanya
itu surat dari jo. Sri sangat senang mendapatkan surat itu. Air matanya
mengalir deras mendapatkan surat dari kekasihnya. Seorang teman dan juga
sahabat jo datang bersama surat itu. Percakapan panjang lebar dirumah jo
membuat sri tidak pergi bekerja untuk hari ini.
“Jo terimakasih, engkau sudah
percaya kepadaku” sri berbicara dalam hati. Hingga tengah malam mereka asik
sekali mengobrol. Obrolan mereka sangat serius, sehingga sri memutuskan untuk
pindah keruang kerjanya. Eneng pulang dari tempat les langsung pergi menuju
kamarnya karena ia sangat ingin bersitirahat.
Hingga malam akhirnya percakapan
itu terhenti karena sudah menemukan sebuah kesepakatan. Sri siap-siap untuk
membawa beberapa baju di dalam kopernya. Ia harus segera pegi untuk beberapa
waktu, sri bingung dengan keadaan baru ini. Setelah semua siap sri beristirahat
sebentar hingga pagi.
Akhirnya eneng bangun, sri berkata
kepada eneng bahwa ia harus pergi beberapa waktu. Eneng akan dititipkan kepada
saudaranya yang akan menginap disini. Bibi yang dari kampong halamanya eneng.
Enengpun tersenyum karena selama ini
memang keluarga besar mereka benar-benar terpisah. Bahkan eneng sendiri tidak tahu wajah
bibinya.
Sudah dua minggu sri pergi, setiap
malam sri selalu menjaga komunikasi dengan eneng karena ia adalah harta benda
satu-satunya yang sangat berharga. Tak lupa ia agar bangun pagi untuk menaruh
makan di atas meja untuk ayahnya.
Eneng yang penasaran selama ini
sosok ayahnya pergi kemana, akhirnya memutuskan untuk begadang sampai pagi.
Pada akhirnya eneng sendiri tertidur di atas meja tempat sri selalu memberikan
makan untuk jo. Ia memberanikan diri berkata bibinya, bibinya sendiri tidak mau
menjawabnya. Akhirnya jo merupakan sosok misterius dalam diri eneng. Namun
cerita dari ibunya membuat pikiran eneng menjadi lurus kembali. Ia percaya
bahwa ayahnya datang kerumah setiap hari untuk makan masakan sri yang enak.
Saat sri pulang kerumah ia membawa
banyak barang dan menjadi wanita super sibuk. Hampir taka da waktu untuk
bertemu dengan eneng. Suatu ketika eneng diajak oleh sri ke sebuah gedung
megah, pelayanan yang sangat ramah kepada eneng dan sri. Ternyata diatas gedung
tertinggi merupakan tempat tinggal sri sekarang. Ia sangat ingin eneng untuk
tinggal disitu, dengan sangat marah eneng pergi meninggalkan sri. Hati eneng
sakit, ia lebih memilih untuk tinggal di rumahnya yang lama, walau rumah itu
rusak atau bocor, eneng lebih nyaman tinggal disitu.
Sejak saat itu eneng dan sri tidak
pernah bertemu lagi, bibinya sendiri akhirnya harus pergi karena suaminya di
kampung membutuhkan bantuannya. Kehidupan eneng sekarang berubah, jauh berbeda
dengan kehidupan sri. Akhirnya eneng harus melanjutkan kuliahnya yang sudah
tingkat akhir dengan bekerja menjadi pelayan atau penjaga toko. Dengan susah
payah eneng menamatkan kuliahnya.
Ia bertemu dengan seorang pria yang
masuk dalam kehidupan eneng. Sri ibunya sudah tidak ada lagi kabar darinya
semenjak eneng memutuskan untuk pergi dan tinggal dirumahnya yang lama. Setiap
pagi kegiatan sri digantikan oleh eneng. Menanak nasi, dan berharap ayahnya jo
datang memakannya. Ia tetap percaya ayahnya datang setiap malam hanya untuk makan
dan pergi setelah pagi. Untuk itu eneng menggantikan tugas ibunya yang selama
ini ia kerjakan.
Eneng hidup dari kebun yang ia
rawat, semua tersedia di sana eneng tinggal memetik dan memasaknya. Seorang
pria serius untuk melamar eneng, ia ingin segera menjadikan eneng istrinya.
Eneng yang akhirnya luluh hanya memberikan sebuah alamat ke pada pria tersebut.
Pria itu pergi ke alamat yang eneng maksud agar ia bisa segera melamar eneng.
Dengan hati gundah pria masuk
kesebuah ruangan besar penuh dengan barang-barang antik dan mahal. Beberapa jam
kemudian pria menampakkan wajah baru berseri-seri dengan penuh harapan ia
segera pulang menemui eneng untuk langsung merencanakan pernikahan mereka.
Tetapi pria memiliki pertanyaan yang sangat besar didalam kepalanya. Bayangkan
mengapa eneng susah payah hidup seperti ini, sedangkan ibunya hidup jauh lebih
baik di atas eneng. Sebagai seorang yang hanya memiliki satu anak mungkin eneng
sangat dimanja oleh ibunya, tetapi kenyataanya sangat berbeda.
Setelah eneng resmi menikah dengan
pasanganya. Pria semakin merasa aneh dengan ayahnya eneng yang tidak pernah ia
temui tetapi tugas eneng terus diembanya, dengan menyiapkan makan pagi dan
makan malam untuk ayahnya jo. Kehidupan eneng sekarang sedikit lebih baik dan
terbantu karena kehadiran suaminya. Eneng selalu bersyukur dengan semua yang
diberikan oleh pria yang terbaik dalam hidupnya ayah dan suaminya.
“jo sekarang engkau sudah memiliki
menantu, kenapa engkau tidak datang di acara terpenting anak kesayanganmu
eneng?, sri berfikiran sama denganmu, sri tidak hadir dalam pernikahan eneng”
kata sri kepada suaminya. Sri terduduk ditengah ruangan kerja sekaligus rumah
disebuah gedung bertingkat. Sri tidak lagi memasak untuk jo, karena ia yakin
eneng pasti selalu memasak untuk ayahnya. Sri yakin jo lebih suka tinggal di
rumahnya daripada harus tinggal di sini bersama sri.
“jo aku mendapatkan kabar dari
bibi, katanya eneng sekarang hamil. Sebentar lagi kita akan memiliki cucu jo.
Mungkin sedikit lagi aku akan menyusulmu kerumah. Untuk tinggal bersama
keluarga baru kita. Aku sudah mempersiapkan semuanya jo. Sebuah hadiah untuk
anak dan cucu kita. Teman-teman juga sudah sangat setuju dan sependapat dengan
pikiran kita” sri berbicara kepada jo sambil menyiapkan berkas-berkas yang
sudah di tandatangan oleh sri. Sebuah senyum kerinduan segera hadir penantian
panjang seorang ibu yang berjuang untuk keluarganya selama ini.
Dia hanyalah satu dari sekian ratus
orang yang mati setiap detik. Bagi dunia dia tidak berarti tetapi bagi
seseorang ia sangat menanti kedatangannya. “jo sudah kukatakan, semua sudah
kupersiapkan namun sayang hari ini aku tidak sempat melihat wajah cucu kita.
Aku malah terlebih dahulu datang menemuimu. Jo, maafkan aku. Atau engkau sudah
rindu padaku lalu memanggilku?” Tanya sri begitu bingung kepada jo.
Tidak ada yang tahu kepergian sri
sampai pada akhirnya eneng hanya disuruh oleh bibinya. Lain kali jangan
memberikan nasi kepada ayahmu saja, sekarang belajarlah memberikan nasi kepada
ibu. Jika rezekimu berlebihan tambahkanlah lauk dan jangan lupa nyalakan dupa
diatasnya. Agar keluargamu selalu di lindungi oleh mereka. Eneng hanya menurut
kata bibinya dan mengerjakan yang diperintahkanya setiap hari. Ia percaya
diam-diam ibu dan ayahnya datang, melihat keluarga mereka setiap hari.
Sepucuk suratpun datang, ia lebih
memilih keluarganya. Suaminya yang mengurus semuanya untuk keluarganya. Jo dan
sri tersenyum melihat pengabdian anaknya kepada kedua orang tuanya. “jo, kau
lihat sekarang. Eneng sudah tumbuh dewasa, melebihi sri dan aku bangga mas jo.
Tetapi sekarang aku lebih tenang bersamamu disini” ungkap sri kepada jo. “sri,
telah lama aku menantimu dan sekarang akhirnya kita bisa berjumpa dan
berbicara. Aku selalu mendengar keluh kesahmu. Tetapi aku yakin engkau bisa
melewati ini semua. Waktu kita masih panjang, kita bisa mengobrol hingga pagi.
Tetapi sebelum itu, maafkan aku sri” jawab jo untuk sri yang akhirnya mereka
berbincang panjang lebar ditemani wewangian yang khas dan masakan dari anaknya.
By : Muhammad Faiz Prawiro Negoro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar